Rabu, 21 Mei 2014

Tim Tari IKAMAS Ikut Meriahkan Gebyar Budaya Nusantara 2014 Batu

Tepat pada tanggal 16-17 Mei 2014 Pemkot Batu melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan menggelar acara Gebyar Budaya Nusantara 2014 yang nantinya akan dijadikan agenda tahunan. Dan merupakan sebuah kehormatan dan juga kebanggaan bagi IKAMAS (Ikatan Keluarga Besar Mahasiswa Sambas) karena turut diundang untuk memeriahkan perhelatan budaya tersebut.

Tim Tari IKAMAS memang bukan pertama kalinya tampil dalam event-event seperti itu. Tim Tari IKAMAS juga selalu tampil di acara Wisuda Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri), dalam acara Gebyar Budaya antar Orda di Malang Raya, bahkan beberapa kali tampil di acara Malang Tempoe Doeloe.

Tim Tari IKAMAS dalam event  Gebyar Budaya Nusantara 2014

Penampilan Tim Tari IKAMAS

Tim Cewek

Tim Cowok

Tim Tari menampilkan Tarian Tandak Sambas, yang merupakan Tarian Daerah dari Sambas




Senin, 28 April 2014

Pilih Rumah Harga Miliaran atau Sepasang Kaki?

Pernahkah kita mencoba berhenti dari berbagai rutinitas dan mencoba merenungkan betapa besarnya nikmat Tuhan kepada kita? Nikmat yang diberikan Tuhan tidak ternilai harganya. Namun, tidak sedikit dari kita bahkan tidak pernah menyadari apalagi mensyukurinya.

Sebuah analogi misalnya kita diminta untuk memilih antara memiliki mobil mewah, tetapi tidak memiliki sepasang kaki atau memiliki sepasang kaki tetapi hanya memiliki rumah seadanya. Manakah yang akan kita pilih? Kita mungkin spontan menjawab lebih memilih sepasang kaki. Lantas, bagaimana kalau kita diminta memilih antara memiliki rumah harga miliaran tetapi tanpa sepasang kaki??? Lagi-lagi kita pasti menjawab lebih baik memiliki sepasang kaki. Begitulah, ternyata hanya untuk sepasang kaki saja, sudah sangat tidak ternilai harganya. 

Subhanallah.....

Terinspirasi dari renungan do'a awal pekan oleh Bapak Khamdani.

Rabu, 23 April 2014

Terapi Keuangan: Psychology of Personal Finance

Terapi Keuangan: Psychology of Personal Finance: Pemikiran ini bermula ketika saya seringkali menemukan fenomena ini dalam profesi saya sebagai perencana keuangan. Problem keuangan yang se...

Selasa, 22 April 2014

Pentas Seni IKAMAS tahun 2010

Sebenarnya photo-photo yang akan saya tampilkan disini adalah photo-photo yang udah lama sekali, tetapi cukup berkesan buat saya. Ini adalah kenang-kenangan acara Pentas Seni yang diadakan oleh Orda kami yaitu IKAMAS (Ikatan Keluarga Besar Mahasiswa Sambas) periode Ketum Ridho Nofendri. Rasa-rasanya sayang kalau tidak diabadikan. Sehingga saya memutuskan untuk share beberapa photonya disini. Check it out.......


Photo bersama Panitia dan peserta Pentas Seni Orda 

Masih melanjutkan narsis bareng panitia dan peserta


Peserta dari Kalbar dan Bima NTB 



Minggu, 13 April 2014

Liburan,,, enaknya ngapain ya???

Tulisan ini harusnya saya posting hari Rabu, 9 April 2014 (ya,,, pas pileg) kemarin. Tapi karena baru sempat sekarang, jadilah telat posting.

Alhamdulillah... libur lagi. Saya tidak punya agenda khusus untuk mengisi liburan kali ini. Tapi yang namanya libur, rugi banget kan kalau nggak dimanfaatkan? Biasanya ada beberapa kebiasaan saya dan suami dalam memanfaatkan liburan. Kalau kami lagi nggak pengen capek-capek,, kami liburan aja dirumah (koq bisa?). Liburan dirumah itu artinya kami menghabiskan waktu libur dengan nonton film favorit berdua. Biasanya kalau nonton berdua, pilihan kami adalah nonton film action luar. Liburan seperti ini sangat murah, namun tetap nyaman dan menyenangkan.

Terkadang, kalau kami merasa pengen jalan2... namun belum ada tujuan, budget juga menipis, alun-alun kota adalah tujuan favorit kami. Selain alun-alun Kota Malang memang enak buat tempat nyantai keluarga, juga dekat dengan Gramedia pusat. Tinggal nyebrang, nyampe dech. Jadi kalau udah capek nongkrong di alun-alun, kami bisa langsung ke Gramedia. Nah, gramedia juga salah satu tempat favorit saya lho untuk menghabiskan liburan.





Senin, 07 April 2014

Saran A.S. Laksana sebelum memasuki bilik suara Part II

menyambung posting saya sebelumnya tentang saran A.S. Laksana sebelum memasuki bilik suara berikut ini saran Mas Sulak yang selanjutnya. "Jangan memilih yang suka menampar orang lain. Dia akan menjadi wakil rakyat yang mengerikan karena akan menampar petugas lift jika diminta bersabar, menampar petugas beacukai di penjara, .............Jangan juga memilih orang yang suka menampar diri sendiri. Orang seperti itu mungkin gila." hehe

"Jangan memilih bintang iklan anti korupsi yang tidak mampu memahami pesan iklan yang dia bintangi." Kita tentu ingat dengan iklan partai penguasa yang berbunyi "Katakan Tidak Pada Korupsi!". Kita tidak tahu apa arti kata tidak di iklan tersebut, mungkin maksudnya tidak menolak karena buktinya memang sebagian besar dari bintang iklannya ternyata terkena kasus korupsi. "Mereka melakukan korupsi karena gagal memahami bahwa imbauan itu, selain disampaikan untuk orang lain, juga berlaku sebagai imbauan bagi diri sendiri.

"Jangan memilih caleg yang mengidap simtom kleptomania atau suka mencuri benda-benda mungil tanpa sadar". Saran pamungkas dari mas Sulak, "Jangan memilih siapa pun yang ingin membeli suara anda. Tolak uang mereka. ................Anda tidak akan menjadi sejahtera dengan menerima uang sogokan itu dan tidak akan jatuh melarat jika menolaknya."

Sekian sharing saya tentang tulisan mas Sulak di Jawa pos edisi Minggu, 6 April 2014




Minggu, 06 April 2014

Saran A.S. Laksana Sebelum Memasuki Bilik Suara

Diantara 7 hari dalam seminggu, hari minggu adalah hari yang paling aku suka dalam membaca koran. Karena disitu ada tulisannya mas Sulak (A.S. Laksana) di Ruang Putih. Aku mulai mengenali mas Sulak dalam tulisan melalui koran Jawa Pos edisi hari Minggu. Pertama membaca tulisannya aku langsung suka. Menurutku tulisannya menarik. Beliau punya cara sendiri dalam menulis. Mungkin itu yang biasa dibilang dengan istilah 'orisinil'. Setiap membuka koran Minggu, hal yang pertama kali kucari adalah tulisannya Mas Sulak.

Kemarin, (Minggu, 6 April 2014) mas Sulak menulis tentang Pemilihan Legislatif yang sebentar lagi akan kita laksanakan. Disitu tertulis Judul "Beberapa Saran Sebelum Memasuki Bilik Suara". Disini, saya ingin sharing tulisan mas Sulak tersebut.

Ada beberapa hal yang menjadi saran mas Sulak pada kita dalam hal memilih wakil di DPR.Yang pertama menjadi saran Mas SUlak adalah, jangan memilih orang yang memilik kepribadian ganda macam tokoh dalam novel Rober Louis Stevenson 'Dr Jekyll and Mr. Hyde. Diceritakan disini bahwa Dr. Jekyll adalah ilmuwan baik hati yang terbebani oleh kebaikannya, lalu membuat ramuan ajaib yang jika diminum bisa mengubahnya menjadi manusia bejat yang bernama Mr. Hyde sosok baru untuk menyalurkan watak brutalnya. Mas Sulak menyebutkan, bahwa Akil Mochtar adalah tipe seperti itu.

Kemudian mas Sulak menyarankan untuk tidak memilih mereka yang lebih suka menonton film porno di ruang sidang saat mengikuti rapat paripurna DPR seperti yang dilakukan Arifinto, anggota DPR dari partai PKS beberapa waktu yang lalu. "Jangan memilih caleg yang memiliki kemampuan aneh-aneh, misalnya autotomi atau kemampuan yang dimiliki golongan reptil untuk menumbuhkan lagi bagian tubuhnya yang sudah putus." Disini mas Sulak mencontohkan Ruhut Sitompul yang senang bersesumbar "Potong leher kalau saya salah". Dilain waktu kita juga mungkin pernah mendengar Ruhut mengatakan potong telinga, potong lidah, dan sebagainya. Menurut mas Sulak, Ruhut sebagai manusia biasa tidak mungkin bebas dari kesalahan. Namun yang membingungkan adalah sampai saat ini kita tidak pernah melihat ada anggota tubuh Ruhut yang hilang atau berkurang. Maka tidak menutup kemungkinan, kalau Ruhut mempunyai kemampuan autotomi.

"Jangan memilih caleg yang bermulut serampangan. Mulut yang serampangan sering memedihkan hati." lanjut mas Sulak. Di tulisan ini mas Sulak mencontohkan kata-kata dari Marzuki Alie seperti berikut ini "Mentawai kan Pulau. Jauh itu. Pulau kesapu tsunami, ombak besar, itu konsekuensi tinggal dipulaulah.... ya kalau takut ombak, jangan tinggal di tepi pantai." Bapak Marzuki tentu saja tidak memikirkan bagaimana perasaan korban Mentawai saat mengatakan hal itu.
To be continue

Sabtu, 22 Maret 2014

Beli tanah atau rumah????

Beberapa waktu terakhir, saya selalu bingung akan satu hal. RUMAH. Iya, RUMAH. Sebagai informasi, sampai saat ini saya dan suami memang masih jadi kontraktor(mengontrak rumah) dari taon ke taon. Karena memang sebelumnya kami mikirnya lebih baik punya usaha dulu yang stabil, setelah itu baru memikirkan tentang rumah. Tetapi ternyata, untuk memiliki usaha yang hasilnya bisa menopang semua kebutuhan dan keinginan itu bukanlah hal yang mudah. Bahkan sampai saat ini pun, kami bisa dibilang belum memiliki usaha yang bisa dikatakan jelas dalam arti yang sebenarnya. Suami memang sempat punya usaha photocopy-an beberapa waktu yang lalu, tapi jalan sekian waktu akhirnya usaha itu harus ditutup. Saya pun pernah mencoba usaha sampingan (selain ngantor dan berperan sebagai karyawan swasta) jualan pulsa, pakaian, mencoba sedikit kreatif dengan menghasilkan karya berupa kerajinan2, bla bla bla. Tetapi mungkin karena memang tidak fokus 100% akhirnya semua usaha itu pun stag di posisi 'pemula yang tidak berani melanjutkan' alias 'KO'. Dengan kondisi seperti itu, untungnya kami belum 100% menyerah. Saya masih tetap bermimpi, suatu saat saya harus menjadi owner sebuah butik. Punya Passive income yang bisa mencukupi semua kebutuhan. Butuh rumah ada uang, butuh belanja pakaian ada uang, butuh jalan-jalan keluar negeri ada uang. hahaha.... hidup terasa bagaikan di surga. (masih dialam mimpi)

Balik ke bahasan awal, RUMAH. Karena saat ini kami sudah merasa bosan ngontrak, selalu berandai-andai alangkah bagusnya kalau kami sudah memiliki rumah sendiri. Tentu kami tidak harus memikirkan dan dengan terpaksa harus menyisihkan uang kontrakan setiap bulannya. Membayangkan kami bisa berkreasi dan berekspresi dengan rumah kami sendiri membuat perasaan kami ke awang-awang. 
Dalam mimpi saya, kami membangun rumah dengan ide kami sendiri. Dalam artian bentuk dan model semua sesuai dengan kehendak dan khayalan yang selalu menghantui pikiran. Rumah dengan ruangan yang luas, dapur yang terbuka. Karena saya berasal dari Kalimantan yang notabene penghasil kayu, menginginkan di beberapa ruangan bernuansa kayu terutama di kamar tidur utama. Tetapi hal itu tentu saja memakan biaya yang sangat tinggi di Jawa. Kalaupun bukan kayu asli, saya masih bisa berkompromi dengan memakai keramik motif kayu. Langit-langit yang tinggi, sedikit sekat, banyak kaca dan ventilasi adalah bagian lain dari mimpi saya tentang rumah. Sebuah taman tempat berkreasi dan menumpahkan segala uneg-uneg dan kepenatan ditempat kerja. Tentu saja sebuah Kolam renang tidak ketinggalan dari daftar mimpiku. Sedikit muluk memang. Tetapi karena ini sebuah mimpi, tentu saja harus muluk.

Balik lagi ke dunia nyata, kondisi ekonomi saat ini belum memungkinkan kami untuk memiliki rumah seperti itu. Rumah tipe 45 cukup realistis. Justru yang menjadi ganjalan dan membuat bingung adalah apakah kami harus membeli rumah siap huni atau membeli tanah terus membangun rumah sendiri??????
Beberapa orang yang saya anggap bisa dimintai pendapat sudah saya interogasi. Dan kalian mau tau? Jawaban mereka justru membuat saya tambah 'galau'. Betapa tidak? Jawaban mereka bertolak belakang satu sama lain. Ada yang menyarankan sebaiknya kami beli tanah dulu, nanti bangun rumahnya bisa nyicil. Jadi kami tidak perlu disiksa cicilan KPR bertahun-tahun. Keuntungan bangun rumah sendiri adalah bangunannya pasti bagus, karena kita terlibat langsung dalam proses dan bentuknya pun sesuai order. Tetapi kalau mengikuti ide ini, dalam beberapa waktu ke depan, dan itu bisa jadi lumayan panjang, kami masih harus memikirkan tentang uang kontrakan. Dan membayangkan itu selalu mampu membuat insomnia. Ide ini katanya bisa berakibat melebihi limit bahkan lebih mahal ketimbang beli rumah jadi, sangat mungkin dalam proses terjadi rombak sana sini karena kita selalu menginginkan yang terbaik. Bahan-bahan yang terbaik, model yang terbaik, semua harus the best.

Ada yang berpendapat sebaiknya kami membeli rumah siap huni aja atau rumah bekas. Nanti bisa direnovasi atau ditambah bangunannya. Dengan begitu, kami bisa langsung menempati rumah. Tidak perlu menyisihkan uang kontrakan tiap bulannya. Tetapi karena dana yang limit, pilihan ini akan memaksa kami untuk membayar cicilan KPR selama bertahun-tahun. Memikirkan pendapatan kami harus dipotong sekian banyak dalam jangka waktu hampir setengah dari sisa umur kami, sudah membuat kepala saya seperti ditumbuhi 'tumor ganas'. 

Anda bisa membayangkan bagaimana bingung dan 'galau' saya akhir-akhir ini????